The Councils
RAKSI LAVENDER
Full Name: Raksi Lavender
Nick Name: Laven, Raksi, Apen
Face-claim: SAN ATEEZ
DoB: Padang, 10 July 1999
Position: Publishing
Raksi Lavender lahir di Padang pada 10 Juli 1999, dengan nama yang kerap membuat orang berhenti sejenak untuk bertanya. Tidak ada marga, tidak ada penanda khas yang mengikat ke tanah tempat ia lahir. Ia memang bukan orang Minang, hanya kebetulan membuka mata pertama kali di sana. Sejak kecil, pertanyaan soal identitas itu datang seperti rutinitas, tapi jawabannya selalu sama "Saya cuma numpang lahir tapi saya cinta nasi padang" dan tetap terasa tidak cukup bagi orang lain. Mungkin karena itu juga, sejak awal ia sudah merasa dunia terlalu luas untuk hanya dijelaskan dari satu tempat. Keinginan merantau tumbuh dari dulu, dimana ia sangat ingin melihat dunia luar.Langkahnya membawanya ke Earfultime, awalnya sebagai staff biasa yang nyaris tidak mencolok. Ia bekerja seperti orang pada umumnya, menyelesaikan tugas, duduk di depan layar, dan yang paling sering bengong dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tapi justru dari kebiasaan itu, muncul penilaian yang agak tidak masuk akal: "Katanya" ia punya cara berpikir luas. "Katanya" ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Entah bagaimana, penilaian itu mengangkatnya perlahan sampai ke posisi kepala bagian publish. Sebuah posisi yang terdengar serius, meski orangnya sendiri masih sering terlihat seperti sedang loading di tengah hari kerja.Ia dikenal punya kesabaran setipis tisu dibagi seratus, terutama kalau sudah bersinggungan dengan manager—mudah panas, cepat tersulut, dan kadang berujung ribut kecil yang sebenarnya tidak direncanakan. Tapi di luar itu, ia justru cukup tenang dengan divisi lain, lebih fleksibel, lebih sadar bahwa pekerjaannya tidak bisa berdiri sendiri. Di tengah deadline yang beranak pinak dan revisi yang seolah tidak ada titik akhir, ia tetap berjalan dengan ritmenya sendiri. Ia bukan tipe yang terlihat ambisius, tapi tetap dipercaya, seolah ada sesuatu dalam diamnya yang diam-diam bekerja.Mungkin saat ini Lavender masih bertahan di dunia kerja yang gonjang-ganjing ini, atau setidaknya masih punya waktu untuk bengong tanpa diganggu di tengah segala kekacauan yang terjadi.
Manisha Iaurine Lombardi
Full Name: Manisha Iaurine Lombardi
Nick Name: Manisha, Manis
Face-claim: Go Younjung
DoB: Brebes, 25 May 1998
Position: Campaign
25 Mei 1998 menjadi awal dari perjalanan hidup Manisha Iaurine Lombardi, yang dilahirkan di Brebes, Indonesia, sebuah kota kecil yang kelak hanya menjadi titik mula dari langkah-langkah besarnya. Kota kecil itu tidak banyak berubah sejak ia masih kanak-kanak, tetapi Manisha tumbuh jauh melampaui batas geografis tempat ia dilahirkan. Sejak kecil, ia terbiasa memendam banyak hal sendiri. Ia lembut dalam bersikap, namun tidak mudah goyah. Ada ketenangan dalam caranya berbicara, seolah ia selalu memberi ruang bagi orang lain sebelum mengambil ruangnya sendiri.Perceraian kedua orang tuanya menjadi titik yang diam-diam membentuknya. Ia tidak pernah benar-benar membicarakannya. Ia hanya belajar untuk mandiri lebih cepat. Belajar bahwa perhatian tidak selalu datang ketika dibutuhkan, dan rasa sayang kadang hadir dalam bentuk yang tidak ia mengerti.Selepas sekolah menengah, Manisha diterima di University of Melbourne, Australia, mengambil jurusan Integrated Marketing Communications. Kampus ternama itu memberinya pemahaman mendalam tentang strategi kampanye, perilaku konsumen, dan bagaimana sebuah pesan dapat membentuk persepsi publik. Ia tidak hanya belajar teori, tetapi juga terbiasa berpikir kritis, menyusun strategi berbasis data, dan memimpin proyek lintas budaya. Semua itu menjadi fondasi kuat bagi kariernya di industri media.Sekembalinya ke Indonesia, ia bergabung dengan Earfultime, sebuah media company yang dikenal progresif dan berani dalam merancang kampanye kreatif. Banyak yang tahu ia masuk melalui rekomendasi khusus dari lingkaran internal perusahaan. Sebuah akses yang tidak semua orang miliki. Namun, setelah hari pertamanya, tidak ada perlakuan istimewa. Ia ditempatkan sebagai staf campaign biasa, menerima beban kerja yang sama beratnya, bahkan kadang lebih. Ia bekerja dalam diam.Memperbaiki proposal hingga larut malam, menganalisis insight audiens dengan detail yang hampir obsesif. Saat presentasi pertamanya mendapat kritik tajam, ia hanya mengangguk dan mencatat. Kesehariannya kini sebagai pemimpin Divisi Campaign terbilang teratur dan cenderung monoton. Pagi dimulai dengan rapat internal. Siang diisi diskusi konsep dan evaluasi performa. Sore dipenuhi revisi dan koordinasi dengan klien. Grafik, timeline, dan deadline menjadi pemandangan yang akrab.Namun ada hal-hal kecil yang membuatnya tetap menyukai pekerjaannya.Ketika sebuah ide sederhana berkembang menjadi kampanye besar. Ketika timnya tertawa lepas setelah melewati minggu yang melelahkan. Ketika seorang anggota tim berkata dengan mata berbinar bahwa ia merasa didengar.Di momen-momen seperti itu, Manisha merasa hidupnya tidak sekadar berulang. Ada makna yang perlahan tumbuh di antara rutinitas. Ia memimpin dengan caranya sendiri. Lembut, tetapi tegas. Percaya diri tanpa perlu meninggikan suara. Ia bisa menyesuaikan ritme dengan siapa pun yang ia hadapi. Dengan klien yang keras, ia menjadi kokoh. Dengan tim yang rapuh, ia menjadi penenang. Dengan atasan yang penuh tuntutan, ia menjadi profesional yang terukur.Di lantai tertinggi gedung Earfultime, ada satu sosok pria yang selalu tampak tenang dan sulit ditebak. Kehadirannya jarang, tetapi berpengaruh. Banyak yang menghormatinya, sebagian merasa segan. Bagi Manisha, pria itu lebih dari sekadar figur penting di perusahaan.Suatu malam, ketika kantor hampir kosong, ia masih berada di ruang meeting menatap layar presentasi.Pria itu masuk perlahan.“Masih di sini?”, ucap pria paruh baya tersebut.
“Masih ada yang perlu diselesaikan.”
“Kamu tidak harus membuktikan apa pun.”Manisha menatapnya sekilas sebelum kembali ke layar.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa tetap memaksakan diri?”Ia terdiam beberapa detik. Karena aku tidak pernah merasa cukup, hampir saja kalimat itu keluar. Tapi ia menggantinya.“Karena ini tanggung jawabku.”Percakapan mereka tidak pernah panjang. Hubungan mereka canggung, dipenuhi jarak yang terbentuk sejak lama. Perceraian membuat komunikasi menjadi formal. Perhatian terasa kaku. Namun di balik itu semua, ada rasa sayang yang tidak pernah benar-benar hilang.Ayahnya sering mengamati perkembangan divisi campaign secara detail. Ia jarang memuji secara langsung, tetapi selalu memastikan proyek yang dipimpin Manisha mendapat dukungan sumber daya yang cukup. Ia hadir dengan cara yang tidak selalu dipahami oleh putrinya.Awal karier Manisha di Earfultime memang tidak sepenuhnya lahir dari proses seleksi biasa. Ada pintu yang terbuka karena kedekatan tertentu. Setelah itu, semua langkah adalah hasil kerjanya sendiri. Ia menolak perlindungan berlebih. Ia memilih menghadapi kritik tanpa pembelaan. Ia ingin namanya berdiri sendiri.Pria yang sering berdiri di balik kaca ruang eksekutif itu adalah Gerald Kurniawan, pemilik sekaligus pendiri Earfultime.Dan Manisha adalah putrinya.Tidak banyak yang mengetahui fakta tersebut. Ia tidak pernah mengumumkannya. Ia ingin dikenal sebagai pemimpin yang kompeten, bukan sekadar anak pemilik perusahaan. Di balik sikapnya yang tenang, ia masih menyimpan harapan sederhana bahwa suatu hari ia dan ayahnya bisa berbicara tanpa jarak, tanpa formalitas, tanpa luka lama yang mengendap.Setiap pagi, ketika ia melangkah masuk ke gedung yang juga menyimpan sejarah keluarganya, Manisha membawa dua hal sekaligus. Ambisi profesional dan kerinduan personal yang tak pernah benar-benar selesai.Mungkin, di antara deretan kampanye yang ia susun dengan presisi, ada satu strategi yang belum ia pecahkan sepenuhnya. Strategi untuk memahami hati seorang ayah yang mencintai putrinya dalam diam.
Kean Rafisqy Athaya
Full Name: Kean Rafisqy Athaya
Nick Name: Kean, Iqy
Face-claim: Ong Seungwoo
DoB: Bandung, 14 May 1997
Position: Finance
“Iqy, kalau udah gede nanti mau jadi apa?
“Iqy mau jadi ustadz, Umi!”Kean Rafisqy Athaya, lahir di Bandung pada 14 Mei 1997. Cita-citanya menjadi ustadz bukan tanpa alasan. Lelaki yang kerap disapa Kean atau Iqy tinggal di keluarga yang sangat kental dengan agama Islam. Ayahnya merupakan pengurus pondok pesantren dan ibunya adalah guru mengaji di masjid dekat rumah. Kean tumbuh di keluarga sederhana dan ramai.Iya, ramai. Ia merupakan anak ketujuh dari sebelas bersaudara. Saking banyaknya saudara kandung yang dimiliki, pernah ada sebuah kejadian dimana Umi melahirkan bersama-sama dengan kakak keduanya. Sebuah peristiwa absurd yang pasti tidak semua keluarga mengalaminya. Dan saat itu Kean masih berusia 3 tahun.Meskipun memiliki banyak anak, Kean masih berkesempatan untuk menimba ilmu di sebuah sekolah islam swasta terbaik hingga bangku SMP. Namun ketika dirinya hendak naik ke bangku SMA, finansial keluarganya sedang tidak stabil. Oleh karena itu, ia memilih untuk masuk ke sebuah SMA Negeri dan dari sini lah hidupnya berubah.Kean memiliki hobi baru, yaitu menari dan berakting. Bahkan Kean sempat membuat boygroup bersama teman satu SMAnya dengan nama “Koboi Senior”. Siapa sangka, keisengannya dengan teman-temannya membuatnya dikenal luas, setidaknya di kalangan remaja sebayanya. Popularitas sementara itu sempat ditentang oleh keluarganya. Tentu, kegemeran barunya ini bertentangan dengan keyakinan kedua orang tuanya. Kean terpaksa keluar dari grup yang berhasil membuat namanya bersinar.Di penghujung SMA,
Alyssa Soebandono
Full Name: Alyssa Soebandono
Nick Name: Alyssa
Face-claim: Kim Jennie
DoB: Brebes, 25 May 1998
Position:Content Poduction
Mimpinya sederhana. Jakarta bisa cukup berbaik hati dan mengizinkannya sukses dikerasnya ibu kota. Namanya Alysa Soebandono, kelahiran Solo, lajang, bukan istri dari Dude. Dan untungnya, ia masih bisa bertahan di sini sebagai seorang Content Production Lead di sebuah perusahaan start-up media yang sudah memiliki portfolio baik dengan menggaet brand-brand fast moving maupun retail ternama.
Entah darah kreatif siapa yang mengalir di nadinya. Pasalnya, ayah dan ibunya adalah peternak dan pengimport kambing dari New Zealand. Beritanya cukup mengejutkan ketika ia memutuskan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual daripada melanjutkan bisnis orang tuanya. Tentu ini melalui pikiran matang dan pembicaraan yang dalam dengan kambing-kambing importnya.
“Do you think I’m making a right decision, Shaun the Sheep?”
“Mbeeeek mbeeek mbeeek mbEEEk mbeekkk mbbeeekkk mbeek mbeek mbeeKKK”.
“Thank you for your reassurance, Shaun. It means a lot”.
Pada akhirnya, Jakarta tidak pernah benar benar ramah. Tapi Alysa belajar, kadang bertahan bukan soal menaklukkan kota, melainkan tetap menjadi dirinya sendiri di tengah kerasnya dunia. Besok pagi alarm akan kembali berbunyi, kopi akan kembali dingin di meja kerja, dan deadline akan tetap datang tanpa permisi. Tapi Alysa tahu, selama ia masih mampu tersenyum di akhir hari, berarti ia belum kalah.
GLOSARIUM
Earfultime: Perusahaan yang bergerak di bidang media dan berfokus pada produksi serta distribusi konten kreatif.
The Council: Empat pemimpin yang mewakili masing-masing divisi.
The Associates: Kandidat terpilih dengan status aktif setelah penandatanganan offering letter.
Campaign: Game Master.
Publishing: Event Planner.
Finance: Activity & Point Checker.
Content Production: Editor.
Break Time: Mini game yang diadakan setiap Senin & Rabu.
Huddle Time: Live game yang diadakan setiap Selasa-Jumat malam.
Sonicore: Radio yang diputar bersamaan dengan dimulainya live game.
Clarity Conference: Honest hour.
Priority Cycle: Agenda mingguan yang dimulai pada minggu kedua.
Signal Conclave: Agenda utama Earfultime.
Prestige Bearer: Individu yang terpilih berdasarkan komisi tertinggi.
The Selectee: Individu yang terpilih berdasarkan voting seluruh penghuni Earfultime.








